Aksi Biadab Ayah Perkosa 2 Anak Kandung Berhasil Dibekuk Polda Sumut

Tribratanews.sumut.polri.go.id – Pascaditangkapnya Bayu (43) dari rumahnya di Jln Bromo, Kel Tegalsari Mandala III, Kec Medan Denai, oleh petugas Polda Sumut, Yuli membawa kelima anaknya untuk meminta perlindungan hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Apik, Jln Sisingamangaraja, Medan Kota. Fakta mengejutkan pun terungkap!

Menurut Eko, bagian kesiswaan SMP negeri tempat Bunga menuntut ilmu, Senin (24/9) pagi, kebejatan Bayu terkuak setelah peristiwa itu dilaporkan ke LBH APIK yang difasilitasi pihak sekolah. Kemudian, pihak LBH APIK memanggil Yuli, Bunga dan adiknya Melati. Dengan pendekatan yang dilakukan, cerita pun mengalir dari Melati, siswi kelas 3 sekolah dasar (SD).

Selain Bunga, ternyata Bayu juga tega merusak masa depan putri ketiganya, Melati. Mendengar pengakuan bocah lugu itu, pihak LBH APIK mendampingi ketiganya membuat laporan ke Polda Sumut. Hal itu diperkuat hasil visum yang menyatakan bila selaput dara Melati sudah rusak.

“Kapan keduanya diperkosa saya kurang tahu betul. Soalnya saat di Polda saya berada di luar. Kabar yang saya dapat, Melati juga mengalami kerusakan pada kelaminnya atas perbuatan pelaku,” beber Eko, guru Agama Islam di SMP tempat Bunga menuntut ilmu.

Tak hanya itu, Eko juga mendapat informasi lain dari salah seorang personel di Polda. Ternyata, Yuli pun korban perkosaan pelaku sebelum diperistri. “Apa bukan biadab si pelaku itu? Yuli diperkosa hingga Bunga lahir. Kini, anak hasil perkosaannya juga dia perkosa,” geram Eko.

Dari pengakuan para korban, pelaku yang tak memiliki pekerjaan tetap dan pernah dipenjara atas kasus pencurian itu selalu menggunakan narkoba di depan keluarganya. “Termasuk melinting ganja,” ungkapnya.

Saat ini, lanjut Eko, Yuli dan anak-anaknya diamankan pihak LBH APIK untuk menghindari tekanan dari keluarga Bayu. Soalnya, beberapa keluarga pelaku ada yang anggota kepolisian, seperti abang kandungnya yang berpangkat AKP dan bertugas di Lhokseumawe, NAD. Ada juga keponakan, anak dari abang pelaku, dikatakan baru menyelesaikan pendidikan di Akademi Polisi (Akpol) juga bertugas di Calang, NAD.

Awalnya Yuli dan anak-anaknya khawatir laporan yang mereka lakukan berbalik. Hanya, ibu pelaku, Boru Harahap memastikan hal itu tidak terjadi. “Cuma mereka angkat tangan mengenai kasus ini, karena binatang saja tak akan berbuat begitu terhadap anaknya. Mungkin lusa (25/9) abang pelaku akan turun ke Medan,” tukas Eko.

Kebiadaban pelaku yang memperkosa dua putri kandungnya itu dibenarkan Kasubdit III/Renakta Polda Sumut melalui Kanit I, Kompol Haryani SSos. Menurutnya, perbuatan bejat itu dilakukan tersangka secara terpisah.

“Jadi pertama kali yang diperkosa tersangka adalah putri sulungnya (Bunga) ketika berusia delapan tahun. Saat itu mereka tinggal di daerah Tapanuli Tengah (Tapteng). Tersangka menggauli korban di dalam rumah saat ibunya keluar,” terang Haryani, yang ditemui di kantornya, Senin (24/9).

Sebenarnya, lanjut Haryani, korban sudah menceritakan kejadiaan itu kepada ibunya. Namun, Yuli tidak mau hal itu tercium tetangga dan keluarganya. Yuli pun mengungsikan korban ke Aceh, ke rumah saudara dari pihaknya. Rupanya tersangka kembali mendatangi korban ke Aceh dan mengulangi perbuatan terkutuk itu. Korban melaporkan perbuatan ayah kandungnya itu kepada guru sekolahnya di Aceh. Oleh sang guru, cerita itu pun disampaikan kepada ibunya. Mendengar itu, Yuli mengajak pelaku pindah ke kawasan Percut Sei Tuan.

Beberapa tahun kemudian, tersangka kembali menghancurkan masa depan buah hatinya. Kali ini, mantan sopir HIKMA, angkutan kota (angkot) Trayek 26 jurusan Amplas-Pusat Pasar itu memperkosa putri keduanya, Melati yang saat itu baru menginjak usia tiga tahun. Perkosaan diawali dengan merogoh kemaluan korban hingga robek (rusak). Itu berlangsung di rumah mereka di kawasan Percut Sei Tuan, Kab Deliserdang.

“Modus yang dilakukan tersangka dengan cara pura-pura meminta korban untuk mengusuknya. Kemudian, tersangka melakukan perbuatan itu. Berbeda dengan sang kakak yang takut bercerita, sang adik langsung melaporkan perbuatan sang ayah kepada ibunya. Perbuatan terakhir berlangsung tahun 2018 ini,” ungkapnya, sembari menyebut Melati menjadi korban berikutnya setelah ayah mereka keluar dari penjara di LP Tanjung Gusta, Medan, lantaran kasus pencurian.

Berdasarkan pengaduan para korban, Tim unit I Sundit III/Renakta Polda Sumut langsung melakukan penyelidikan dan berhasil meringkus tersangka beberapa waktu lalu. “Kini tersangka sudah diamankan (di tahanan Polda Sumut) dan masih dalam proses pemeriksaan penyidik,” pungkasnya.

Perilaku negatif Bayu juga diungkap tetangganya di Jln Bromo. Menurut mereka, ‘ayah badau’ itu memang sering bermasalah dengan hukum.

“Cuma, lantaran abangnya ada yang polisi, dia selalu bisa dibebaskan. Pernah dia ketahuan mencuri, tapi kemudian korban pencuriannya yang justru dilaporkan ke polisi dengan tuduhan menganiaya,” ungkap mereka.

Akan halnya penuturan beberapa sopir HIKMA, yang mengaku mengenal profil Bayu. Menurut mereka, berkulit sawo matang itu sering bikin onar mengandalkan abangnya yang polisi.

Mereka juga menyebut Bayu pernah ketahuan menyelingkuhi istri orang. Dia sempat babak belur dihajar suami dari perempuan selingkuhannya itu. Lagi-lagi, lantaran abangnya polisi, kasus perselingkuhan itu tak sampai membuat Bayu diproses secara hukum.

Diberitakan sebelumnya, kasus pelecehan seksual terhadap anak bawah umur ini terungkap setelah guru curiga melihat kondisi Bunga yang lebam di wajah. Setelah ditanyakan, Bunga pun mengaku telah diperkosa dan disiksa oleh ayah kandungnya.

(lts)

 

Komentar Facebook