Kapolrestabes Medan Beri Pernyataan Tentang Beredarnya Video Viral Anggota Satlantas Dengan Pengemudi Mobil

tribratanews.sumut.polri.go.id – Pascaberedarnya video amatir  petugas Polantas yang berseteru dengan pengendara mobil Toyota Ayla Nopol BK 1236 OS, pada Senin (22/10/2018) lalu, Kapolrestabes Medan angkat suara.  Video dari akun Fb milik Popoy Gambir yang melakukan siaran langsung di Jalan Bilal tepatnya di persimpangan Lapangan Gajah Mada Medan tersebut pun viral.

Di video itu, Handy Talkie (HT) milik Polantas dari Polsek Medan Timur Bripka Hasugian diambil oleh pengendara yang tidak terima SIM dan STNK nya ditilang tersebut. Video itu langsung beredar luas di masyarakat dan hanya dalam waktu sebentar, telah di tonton hingga ribuan orang.

Menanggapi kasus yang sedang viral itu, Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dadang Hartanto membenarkan bahwa ia sudah mendapat laporan tentang pengambilan HT Polantas oleh pengendara mobil.

“Kemarin saya dapat laporan dari Polsek Medan Timur. Jadi ada anggota kita yang melakukan tindakan kepada seorang pengendara yang videonya sudah viral. Dia tidak menerima atas tindakan yang dilakukan oleh Polantas yang sedang menjalankan tugas,” kata Dadang di Taman Sri Deli Medan, Jumat (26/10/2018).

“Kita dapat laporan HTnya diambil dan ditahan dikendaraan milik pengedara yang ditahan SIM dan STNKnya. Dalam kaitan dengan ini, yang pertama tentu ini bukan pembelajaran yang baik,” sambungnya.

Kalau kita bicara masalah hukum apalagi masalah lalulintas, sambung Dadang sebenarnya bagi masyarakat seandainya dia merasa bahwa dia tidak bersalah saat ditilang oleh polisi, sudah diberikan ruang untuk dibawa ke pengadilan dan pengendara yang ditilang bisa menyatakan kepada Hakim, bahwa dia tidak bersalah.

Lanjut, bukti-bukti yang disampaikan saat proses pengadilan tersebut, bisa disampaikan dan Hakim bisa memanggil petugas kepolisian yang saat itu melakukan penilangan.

“Hal itu kita sampaikan dalam lembar tilang warna merah. Lain kalau lembar biru, biasanya maknanya ketika orang lain menerima bahwa dia memang bersalah. Sehingga dia membayar denda ke pengadilan melalui Bank BRI, kemudian dia tidak mengikuti proses pengadilan dan barangnya bisa diambil,” urainya.

“Nah itu bedanya, jadi masyarakat harus tahu ada beberapa pilihan. Pilihan lembar merah, lembar biru. Jadi bukan hanya sekedar pelayanan memudahkan denda tersebut. Ada proses dibalik itu, bagaimana hukum memberikan jalur apabila masyarakat dalam proses tindakan hukum yang dilakukan oleh polisi, dia merasa dirinya tidak bersalah itu yang perlu kita sampaikan,” terang Dadang.

Lebih lanjut, Dadang berharap bahwa kejadian ini tidak akan terjadi lagi. Karena setiap petugas kepolisian apalagi yang menggunakan seragam itu, adalah representatif dari negara. Kalaupun dia menyalahkan kewenangannya silahkan dilaporkan kepada pimpinan atasnya. Karena polisi punya jalur-jalur terhadap anggota.

“Saat ini kita berupaya untuk melakukan pemeriksaan baik kepada anggota maupun kepada pelaku yang saat ini videonya viral. Dari hasil proses pemeriksaan kita akan tentukan, bagaimana posisi masing-masing,” tuturnya.

“Untuk HT anggota sudah dikembalikan oleh seseorang kepada kita. Nanti hasilnya kita lihat bagaimana proses selanjutnya,” jelas Dadang.

(jrs/cr9/tribun)

 

 

Komentar Facebook