Nyambi Tanam Ganja, Petani Tomat Diringkus Satres Narkoba Polres Tanah Karo

Tribratanews.sumut.polri.go.id – Dua orang pria berinisial NG dan AS yang merupakan warga Desa Semangat, Kecamatan Merdeka, diringkus aparat Satres Narkoba Polres Tanah Karo, Jumat (14/6/2019).

Pasalnya, kedua pria yang berprofesi sebagai petani tomat ini diketahui memiliki pohon ganja yang ditanam di perladangannya.

Kasatres Narkoba Polres Tanah Karo AKP Sopar Budiman, mengungkapkan keduanya diamankan sekira pukul 18.00 WIB. Sopar mengatakan, pengungkapan ini bermula dari ditangkapnya AS yang terbukti memiliki ganja, di seputar Pasar Roga, Berastagi.

Dirinya menyebutkan, melihat ganja yang dibawa oleh AS masih dalam keadaan basah, pihaknya langsung menaruh curiga. Kemudian, AS digiring ke perladangan milik NG tempat daun ganja tersebut berasal.

“Penangkapan ini berawal dari tertangkapnya AS yang memiliki ganja, kita lihat ganjanya masih dalam kondisi basah. Lalu kita melakukan pengembangan, dan kita tangkap N.G, dia mengaku menanamnya sendiri di ladang miliknya,” ujar Sopar, Minggu (16/6/2019).

Sopar mengungkapkan, setibanya di ladang tersebut pihaknya mendapati adanya dua batang pohon ganja yang ditanam di sebelah tanaman tomat. Dirinya menyebutkan, dari kedua pohon tersebut diperkirakan berumur sekitar tujuh bulan. Sopar menjelaskan, berdasarkan pengakuan tersangka mereka sudah sempat menjual barang haram tersebut.

“Di ladang tersangka, kita temukan dua batang pohon ganja yang diperkirakan berumur tujuh bulan. Menurut keterangan tersangka, dia telah menjual ganja ini ke teman seprofesinya, dengan harga 50 ribu hingga 100 ribu rupiah per paketnya,” katanya.

Seorang tersangka NG, mengaku telah menanam ganja tersebut sekitar tujuh hingga delapan bulan terakhir. Dirinya mengungkapkan, awalnya tanaman tersebut untuk dikonsimsi secara pribadi. Namun, jika ada orang yang berniat membeli, dirinya juga bersedia menjualnya dengan harga 50 ribu rupiah hingga 100 ribu rupiah setiap ampnya.

“Sebenarnya untuk pakek sendiri, tapi karena udah banyak gini, kalo ada yang minta ku kasih juga, harganya Rp 50.000 setiap kali orang beli,” ungkapnya.

Dirinya juga mengaku, ganja yang ia tanam di ladang miliknya ini, sebenarnya awalnya digunakannya untuk mengobati penyakit. Ia mengaku, jika selama beberapa waktu terakhir dirinya menderita sakit gula.

“aku makai ganja ini untuk ngobati sakit gulaku” katanya.

Sopar kembali menjelaskan, walaupun tersangka juga memiliki alasan untuk pengobatan, namun tetap saja dilakukan dengan cara yang ilegal. Dirinya menyebutkan, segala bentuk penggunaan narkoba yang bukan arahan dokter atau pemerintah, tetap dikategorikan ke dalam penyalahgunaan.

Akibat dari perbuatan keduanya, para tersangka akan dikenakan pasal 111 ayat 1,dan 114 ayat 1 Undang Undang Republik Indonesia No.35 Tahun 2009, Tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman, maksimal 22 tahun penjara.

(rs/tribun-medan.com)

Komentar Facebook