Lalu Lintas Medan-Sidikalang di Lae Pondom Sempat Terputus Akibat Longsor, Kasat Lantas Polres Dairi : Pembersihan Longsor Selesai Pukul 00.30 Wib

Tribratanews.sumut.polri.go.id – Sempat lumpuh total semalaman akibat tertimbun longsor, arus lalu lintas jalan Medan-Sidikalang di kawasan hutan lindung Lae Pondom, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi, telah kembali normal, Senin (11/11/2019) pagi.

Ruas jalan tertutup longsor telah dibersihkan dan mampu memuat dua kendaraan dari kedua arah.

Bencana alam tanah longsor terjadi pada Minggu (10/11/2019) sekitar pukul 16.00 WIB. Kala itu, hujan deras disertai angin kencang melanda wilayah Kabupaten Dairi.

Material longsor, terdiri atas tanah, pepohonan, bebatuan, dan air/banjir, menimbun ruas jalan sepanjang kurang lebih 50 meter. Tidak ada korban jiwa akibat insiden ini.

“Semalam tertutup air jalan ini semua. Enggak nampak mana aspal, mana bahu jalan,” kata perempuan pemilik kedai di simpang PLTA Renun, Lae Pondom, yang ditemui Tribun Medan hari itu.

Kasat Lantas Polres Dairi, AKP Pittor Gultom mengatakan, pembersihan material longsor selesai dilakukan dini hari tadi sekitar pukul 00.30 WIB.

“Arus lalu lintas tak sempat macet parah, sebab kita sudah koordinasi dengan rekan kita di simpang tiga Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo untuk membuat pengumuman soal longsor tadi malam. Para pengendara yang hendak menuju Sidikalang diarahkan ke jalan alternatif via Tongging,” ujar Pittor kepada Tribun Medan via seluler.

“Sementara, pengendara yang sudah terlanjur masuk, baik dari arah Merek, maupun dari arah Sidikalang, kita atur untuk putar balik, sehingga tertib dan tidak terjadi kemacetan panjang,” sambungnya.

Pittor mengatakan, dugaan sementara, longsor terjadi karena faktor curah hujan tinggi.

Kepala BPBD Dairi, Bahagia Ginting mengatakan, pihaknya mengerahkan alat berat untuk mempermudah pembersihan material longsor tadi malam.

Menurut Ginting, selain karena faktor curah hujan tinggi, sehingga memicu abrasi, longsor di kawasan Lae Pondom diduga terjadi karena adanya aktivitas penebangan liar.

“Bisa jadi hutan kita di atas sana sudah gundul, sehingga tidak mampu mengikat debit air lagi. Ditambah lagi, kondisi tanahnya labil,” pungkas Ginting.

(medan.tribunnews/rs)

 

 

Komentar Facebook