Berita Kapolda Sumut

Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Kenang Masa Kecilnya, Ingusan dan Berlari-lari Mengejar Heli

Polda Sumut menggelar bakti sosial dan kesehatan di Desa Pakpahan, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Selasa (3/3/2020).

Dalam kegiatan bakti sosial dan kesehatan ini melibatkan sekitar 126 tenaga medis dan menyediakan obat-obatan senilai ratusan juta rupiah demi memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat setempat.

Di antaranya 96 tenaga medis dari Dokkes Poldasu, dan sekitar 30 tenaga medis di Tapanuli Utara yang disponsori salah satu bank BUMN.

Kapoldasu Irjen Pol Martuani Sormin mengaku sangat bahagia dapat hadir dan menggelar pelayanan di tengah masyarakat pada tanah kelahirannya.

“Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan dalam diri saya,” ujarnya.

Irjen Pol Martuani bercerita banyak di hadapan masyarakat terkait masa kecilnya, perjalanan karirnya, hingga dipercaya oleh pimpinan tertinggi Polri untuk menjabat sebagai Kapolda Sumut.

Mantan Kapolda Papua ini mengisahkan, saat kecilnya sekira tahun 1967, kondisi kecil kekanakannya yang masih ingusan, dan cacingan menempuh pendidikan SD di Dusun Lobu Sonak, Desa Lumban Sormin, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara.

Berlari-lari mengejar helikopter yang saat itu mendarat di desanya, hingga menjadi sebuah nazar baginya untuk mendarat dengan sebuah heli di tempat yang sama.

“Itu apa adanya, sekarang aja anak-anak sudah bersih, sehat. Dulu, saya ingusan, cacingan. Tapi saya sekolah dan rajin belajar. Siapa menduga anak kampung jadi Jenderal,” kenangnya.

Menurutnya, kisah kanak-kanaknya dengan segala kesusahan pada masa itu mampu melahirkan dirinya yang sukses menjadi seorang Jenderal.

Sang Jenderal menyempatkan diri menyambagi barisan anak SD yang hadir dalam kegiatan itu sembari menanyai satu persatu cita-citanya dan menekankan pentingnya sekolah dan bertekun dalam belajar.

“Tahun 1967, saya berlari-lari mengejar heli dengan satu tangan memegang baju, satunya lagi mengelap ingus, 50 tahun kemudian saya mendarat dengan helikopter, itulah nazar saya,” ungkapnya.

Irjen Martuani juga mengutip isi firman dalam Alkitab soal meminta apa yang sesuai dengan kebutuhan serta meminta pertolongan Yang Kuasa dalam perjalanan hidup.

Kapolda Sumut Irjen Martuani Sormin mendapat sambutan meriah setibanya di Mapolda Sumut, Selasa (17/12/2019).
Kapolda Sumut Irjen Martuani Sormin mendapat sambutan meriah setibanya di Mapolda Sumut, Selasa (17/12/2019). (Tribun-Medan.com/M Andimaz Kahfi)

Sebelumnya, menurut Martuani, sumber daya manusia (SDM) di kepolisian harus dikelola dengan baik, jujur, dan serius.

SDM yang berkualitas akan tercapainya tujuan polri, yaitu rasa aman, keadilan, dan pelayanan prima di masyarakat. Selain itu, memiliki prinsip bersih, transparan, akuntabel, dan Humanis.

“Amanah dan jabatan apa pun itu yang dipercayakan pimpinan, harus dijalankan dengan baik. Seperti latar belakang saya sebagai anak kampung, tentu bisa sebagai penggugah semangat, bahwa parhuta-huta (anak kampung) juga mampu berbuat yang terbaik apabila dia mau belajar dan berlatih,” ujarnya kala itu kepada Tribun-Medan.com.

Lulusan Akpol 1987 dan berpengalaman dalam bidang reserse ini, lahir pada 30 Mei 1963 di Desa Lobu Sonak-Lumban Sormin, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Martuani Sormin yang beristerikan boru Sianturi ini memiliki tiga anak, satu laki-laki dan dua perempuan.

Dalam pemberitaan Tribun-Medan.com (2017), Martuani Sormin di masa kecilnya adalah penjual tape singkong, keripik singkong, dan Jagung rebus di Pasar Pangaribuan, Tapanuli Utara.

Martuani Sormin dan Istri boru Sianturi

Martuani Sormin kecil sepulang sekolah dari SD N 173191 Lumban Sormin sudah menjadi rutinitas membawa tanah kompos ke ladang dan sepulangnya memikul kayu bakar dari hutan Dolok Matutung (nama kawasan hutan) untuk dibawa ke rumah.


”Memikul kompos atau kayu bakar adalah keseharian kami yang sudah dianjurkan ibu,” ujar Martuani kala itu.

Martuani Sormin semasa sekolah dasar, predikat sebagai juara umum di SD Lumban Sormin selalu melekat pada dirinya. Setelah lulus dari SD pada tahun 1975 dengan predikat juara 1, Martuani melanjutkan pendidikan ke SMP N 1 Pangaribuan.

Kegiatan keseharian menjual tape singkong, memikul kompos dan kayu bakar itu tetap berlanjut untuk melanjutkan biaya sekolah. Bahkan dalam kesehariannya Martuani sering diejek kawan-kawannya kala itu. “Kasihan ya si Martuani ini, tiap hari kerja,” ujar martuani mengingat masa lalunya.

Semasa di SMP, Martuani pernah menjadi Duta Kecamatan Pangaribuan untuk lomba cerdas cepat se-Kabupaten Tapanuli Utara yang diselenggarakan di Tarutung.

Setiap hari Sabtu sore, Martuani harus menjemput ayahnya ke Desa Purbatua yang telah seminggu mengambil getah kemenyan di hutan dengan sepeda ontel.

”Ya, sepeda ontel, tiap hari Sabtu sore sepulang sekolah harus jemput bapak (Op.Patiar Doli) ke hutan Purbatua dengan sepeda ontel,” ujarnya mengingat kenangan pada ayahandanya.

Setelah lulus dari SMP pada tahun 1978, Martuani melanjutkan pendidikan SMA di Jakarta. Ia tinggal di rumah family dari saudara ibundanya yang bermarga Sianipar.

Sosok Martuani yang penyabar, ulet, telaten, dan pekerja keras dan mudah berteman sukses menyelesaikan sekolahnya selama 3 tahun di SMA Jakarta .

Lulus dari SMA, ibundanya menganjurkan untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi atau langsung bekerja. Ibundanya melarang Martuani masuk pendidikan militer karena khawatir akan keselamatan anaknya. Namun, niat tulus untuk mengabdi untuk bangsa dan negara, akhirnya Martuani diterima di Akademi Kepolisian.



Selengkapnya

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button