Opini

Literasi Digital di Garis Depan Bencana Sumatera

Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat pada akhir November 2025 menimbulkan banyak korban dan kerusakan.Besarnya dampak yang ditimbulkan bisa dilihat dari luasya cakupan bencana yang terjadi meliputi tiga provinsi di Sumatera . Kondisi makin diperparah karena terputusnya arus komuikasi di lokai terdampak bencana. Banyak yang awalnya mengangap banjir bandang dan tanah longsor sebagai bencana biasa, baru setelah ramai informasi beredar di media social terungkap fakta parahnya kondisi kerusakan dan banyaknya korban bencana yang ditimbulkan.

Sebelum informasi fakta bencana yng sesungguhnya terungkap, pemandangan yang terlihat di layar media sosial kita sempat dianggap sebagai konten. Bisa dimaklumi jika ada sementara pihak melihat apa yang tersaji di layar gadget bukan realitas sesungguhnya. Banyaknya konten-konten yang diproduksi memanfaatkan aplikasi kecerdasan buatan cukup menyulitkan kita untuk memastikan gambar yang tersaji di layar ponsel sebagai fakta atau hasil produksi rekayasa AI. Belum lagi masifnya penyebaran informasi hoaks yang kerap menimbulkan kebingungan publik.

Dalam situasi kebingungan akibat penyebaran informasi hoaks dan sejenisnya dibutuhkan strategi komunikasi yang bisa dipakai untuk mengukur kebenaran informasi. Salah satunya pemanfaatan platform digital oleh Personil Polda Sumut. Media social bertransformasi menjadi pusat komando informasi berkat aksi sigap personil kepolisian yang melakukan siaran langsung (live) tepat dari lokasi bencana.

Kehadiran personil Polri melalui siaran langsung di media sosial, seperti yang secara aktif dilakukan oleh , menjadi oase informasi bagi warga. Melalui live update berkala, petugas menginformasikan data korban terkini, kondisi jalur transportasi seperti pembukaan kembali jalur lalu lintas, hingga titik-titik penyaluran bantuan.

Aksi ini bukan sekadar konten, penyebaran informasi oleh personil Polri ini sekaligus menjadi literasi informasi di tengah bencana. Di era di mana disinformasi sering kali lebih cepat menyebar daripada bantuan, literasi digital masyarakat diuji. Informasi langsung dari personil di lapangan membantu masyarakat membedakan antara kabar burung dan fakta lapangan, sekaligus menepis narasi provokatif yang sering muncul di ruang digital saat situasi krisis.

Literasi digital bukan hanya soal mampu membaca berita, tetapi juga bagaimana memanfaatkan teknologi untuk bertahan hidup. Salah satu contoh nyata adalah upaya Polda Sumatera Utara melalui Bidang TIK yang mengaktifkan perangkat internet satelit di lokasi banjir Tapanuli Tengah. Hal ini memungkinkan warga yang sempat terisolasi komunikasi untuk kembali menghubungi keluarga, membuktikan bahwa akses informasi adalah kebutuhan dasar saat bencana.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan bahwa literasi digital adalah fondasi ketangguhan bangsa. Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap modus penipuan “paket data gratis” yang marak beredar di tengah kepanikan bencana Sumatera.
Memanfaatkan sumber resmi, seperti akun media sosial kepolisian atau kanal BNPB, adalah langkah bijak dalam berliterasi digital. Dengan mengikuti siaran langsung personil Polri, publik mendapatkan gambaran nyata kondisi lapangan yang terkadang jauh lebih parah daripada yang terlihat sekilas di potongan video viral.

Kesimpulan
Bencana Sumatera 2025 menjadi pengingat bahwa di balik musibah, ada kekuatan solidaritas digital. Literasi digital yang baik, didukung oleh transparansi informasi dari aparat kepolisian melalui siaran langsung, adalah kunci untuk navigasi keselamatan dan percepatan pemulihan pascabencana. Literasi informasi digital ditengah bencana sekaligus mencegah bencana komunikasi.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button